Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

Sejarah Amerika Dijuluki "Paman Sam"

Kenapa Amerika dijuluki sebagai negara “Paman Sam” (Uncle Sam) ?. Begini ceritanya, dahulu ada orang bernama Samuel Wilson. Ia dilahirkan di Arlington, tanggal 13 September 1766. Pada usia 14 tahun, ia menjadi sukarelawan pejuang bagi negaranya. Setelah dewasa, ia membuka usaha kemasan daging di New York. Ia menyuplai bertong-tong daging bagi tentara AS dalam Perang 1812.    
Pada tahun 1812 jumlah barang untuk tentara dibeli di Troy, NY, oleh Elbert Anderson, seorang kontraktor pemerintah. Barang diperiksa oleh dua bersaudara, Ebenezer dan Samuel Wilson. Samuel Wilson sering dipanggil “Uncle Sam” oleh temannya. Setiap paket ditandai inisial E.A.-U.S. Pada saat dimintai arti inisial ini, pekerja yang bercanda menjawab bahwa EA adalah Elbert Anderson dan US adalah Paman Sam yang seharusnya adalah United States. Jadi judul menjadi populer di kalangan para pekerja, tentara, dan orang-orang, dan Pemerintah Amerika Serikat sekarang dikenal sebagai “Paman Sam”
 
Kisah diatas akhirnya di tulis dalam sebuah koran. Pada 1860-an dan 1870-an, kartunis politis Thomas Nast mulai mempopulerkan gambar Paman Sam. Nast mengembangkan gambar tersebut dengan memberikan Paman Sam janggut putih dan pakaian yang bermotifkan bintang dan garis. Nast juga-lah yang menciptakan citra Sinterklas dan gajah sebagai simbol Partai Republik. Pada September 1961 Kongres AS mengakui Samuel Wilson sebagai cikal bakal symbol nasional Amerika.
Berkas:US map - geographic.png 
Paman Sam Wilson dianggap sebagai tokoh teladan tentang seorang wiraswasta yang suka bekerja keras dan cinta kepada tanah airnya. Wilson wafat di usia 88 tahun pada 1854 dan dimakamkan di Pemakaman Oakwood di Troy, New York. Kota itu mendapat sebutan ‘Rumah Paman Sam.’ Akhirnya , nama Paman Sam secara resmi dipakai untuk julukan negara Amerika. Orang-orang Amerika sekarang bangga dengan julukan dan citra yang dimiliki Paman Sam.

Jumat, 16 Maret 2012

Pencipta lagu kebangsaan Singapura ternyata orang Indonesia !!!



http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/e/e2/ZubirSaid.jpg

Zubir Said (lahir di Bukittinggi, Indonesia, 22 Juli 1907 – meninggal di Singapura, 16 November 1987 pada umur 80 tahun) adalah seorang penggubah musik untuk film dan juga pencipta lagu kebangsaan Singapura, "Majulah Singapura". Ia dipercaya telah menggubah lebih kurang 1.000 buah lagu.

http://buchyar.pelaminanminang.com/tokoh/zubir_said.jpg


PESERTA PELATIHAN MEDIA CORP ASAL Indonesia terperangah dengan penjelasan Menteri Negara Senior Urusan Luar Negeri Singapura, Zainul Abidin Rasheed. Di tengah kunjungan peserta pelatihan ke Istana Kampong Gelam Singapura, Senin, Zainul yang berdiri di samping sebuah patung manusia menjelaskan asal-usul patung tersebut. Menurut Zainul, itulah patung Zubir Said, pencipta lagu kebangsaan Singapura yang berasal dari Indonesia (Minang).

Kantor berita Antara, sayangnya tak menjelaskan bagaimana keterkejutan para peserta pelatihan asal Indonesia mendengar penjelasan Zainul itu kecuali hanya mengutip pernyataan Zainul. Menurut Zainul, Zubir Said telah memberikan kontribusi yang sangat berarti atau fundamental bagi Singapura yang didiami warga negara dari multi bangsa. Itu saja.

Bagi sebagian orang termasuk para peserta pelatihan itu, informasi Zainul mungkin memang mengejutkan meskipun berita itu sudah lama diketahui oleh sebagian yang lain. Dua tahun lalu, dalam acara yang sama yang juga mengundang peserta dari Indonesia, Zainul sebetulnya juga sudah menjelaskan hal serupa. Namun penjelasan Zainul tak terlalu menarik perhatian orang, rupanya, hingga muncul berita seperti di Antara pada 12 Mei 2008.

Siapa Zubir Said? Lahir di Bukit Tinggi pada 22 Juli 1907, Zubir adalah anak dari Mohamad Said bin Sanang. Zubir baru berusia 7 tahun ketika ibunya meninggal dunia. Saudaranya berjumlah delapan; 3 laki-laki dan 5 perempuan. Sejak masa kanak, bakat Zubir bermain musik sudah terlihat ketika dia misalnya diketahui sangat piawai memainkan suling, gitar dan drum. Tak ada yang mengajari Zubir melainkan semuanya merupakakan bakat alam.

Sebelum merantau ke (pulau) Singapura pada 1928, Zubir diketahui pernah bersekolah di Belanda. Panggilan hatinya untuk bermusik, membuatnya meninggalkan Belanda meskipun pilihannya itu ditentang oleh sang ayah. Di Singapura, dia bergabung dengan Grup Bangsawan, sebuah kelompok opera yang para pemainnya berasal dari bangsa Melayu. Di kelompok itu Zubir tak bertahan lama, karena dia kemudian memutuskan bekerja untuk perusahaan rekaman His Master’s Voice pada 1936. Di perusahaan itulah, Zubir bertemu dengan Tarminah Kario Wikromo, perempuan Jawa yang dikenal sebagai penyanyi keroncong yang pada 1938 dipinangnya sebagai istri.

Zubir sebetulnya sempat pulang dan menetap kembali di Bukit Tinggi setelah menikah. Dia baru kembali ke Singapura pada 1941 dan terus menetap di sana hingga meninggal pada 1987. Masa kedua kehidupannya di Singapura, dia lewatkan dengan bekerja pada surat kabar Utusan Melayu sebagai fotografer dan penulis paruh waktu. Tujuannya semata agar dia punya kesempatan lebih banyak untuk bermain musik dan menuliskannya di surat kabar.

Karir musik Zubir mulai mentereng ketika pada 1957, untuk kali pertama karya musiknya dipentaskan untuk umum di Victoria Teater. Pada tahun berikutnya, Dewan Kota Singapura menetapkan salah satu komposisi Zubir sebagai lagu resmi kota Singapura. Lagu berjudul Majulah Singapura itulah yang belakangan kemudian ditetapkan menjadi lagu kebangsaan Singapura ketika negara itu merdeka pada 9 Agustus 1965.

Sebelum kemerdekaan Singapura itu, Zubir sudah mencipta beberapa lagu termasuk untuk soundtrack film yang dibuat oleh Cathay Keris. Salah satu lagu yang dibuat Zubir untuk film Dang Anom bahkan memenangi penghargaan Festival Film Asia ke-9 di Seoul, Korea Selatan pada 1962. Beberapa komposer dan pengamat musik menilai karya Zubir sebagai lagu Melayu yang sebenarnya karena musiknya banyak berkaitan dengan sejarah dan nilai-nilai Melayu terutama Minang dan membangkitkan semangat kebangsaan pada 1950.

Sebelum penyakit kuning menderanya hingga dia meninggal pada 16 November 1987, Zubir diketahui telah membuat karya musik hingga 1.500 judul. Lagu-lagu itu belum seluruhnya dipublikasikan karena Zubir terlalu serius mengajar seniman-seniman muda tentang seni musik daripada mengurusi rekaman lagu-lagunya. Lagu-lagu ciptaan Zubir yang terkenal antara lain, Sang Rembulan, Sayang Disayang, Cinta, Selamat Berjumpa Lagi, Nasib Malang, Anak Daro, Setangkai Kembang Melati, dan Kumang dan Rama-Rama.

http://buchyar.pelaminanminang.com/tokoh/partitur_lagu_zubir_said.jpg


(Gambar 1.2 Setangkai Kembang Melati, http://hamlau.proboards44.com )


Sejak 2003, pemerintah Singapura merenovasi Istana Kampong Gelam. Itulah istana peninggalan Sultan Ali, anak Sultan Hussein Shah dari Kesultanan Johor-Riau, yang dibuat pada lebih kurang 167 tahun silam. Sebelum diresmikan sebagai museum dan dibuka untuk umum pada 4 Juni 2005, renovasi istana menelan Sin $ 17 juta. Zainul adalah wakil ketua Yayasan Warisan Malaysia yang antara lain membawahi Istana Kampong Gelam. Istana yang terletak di Taman Warisan Melayu Singapura itulah, antara lain dipajang patung Zubir Said.

Setiap tahun, Singapura mengundang para wartawan termasuk dari Indonesia untuk mengunjungi istana tersebut tapi rupanya wartawan dari Indonesia yang kali ini datang ke sana, baru kali ini tahu bahwa pencipta lagu kebangsaan Singapura Majulah Singapura adalah Zubir Said, orang Indonesia berdarah Minang. Belum ada penjelasan, apakah Zubir meninggal sebagai warga negara Singapura, atau tetap berkebangsaan Indonesia.

Kamis, 15 Maret 2012

Pesan dari jaman batu



Lukisan atau simbol-simbol yang terdapat didinding-dinding gua sepertinya adalah asal-usul bahasa tertulis. Pertama kali ditemukan di Perancis, Dan kemudian ditemukan diberbagai belahan dunia. Kali ini kita akan membahas sebagian saja, cekidot kira-kira pesan apa yang bisa kita tangkap dari lukisan atau simbol-simbol ini:
Seorang pengunjung melihat pada dinding-dinding Aula Besar Bulls, gua Lascaux II, Dordogne, Perancis, yang memiliki lukisan-lukisan prasejarah yang indah, sampai sekarang. Hanya baru-baru ini para peneliti sudah mulai melihat, setengah lingkaran aneh squiggles, garis dan zigzag yang mengelilingi mereka. Ini mungkin sebuah kunci untuk memahami bentuk-bentuk awal komunikasi manusia. 


Lukisan batu ini di Chobe Taman Nasional, Botswana, menggambarkan sebuah eland, gajah dan kijang atau gemsbok.Namun, simbol-simbol yang mengelilingi mereka yang mungkin memegang kunci untuk memahami komunikasi manusia awal. Garis zigzag tidak muncul sampai 20.000 tahun yang lalu dan 13.000 tahun yang lalu telah menghilang. Bentuk mengular berbentuk sama ada dari 30.000 tahun yang lalu, tetapi juga meninggal dari sekitar 13.000 tahun yang lalu. Simbol serupa telah ditemukan di Australia, Afrika Tengah, Eropa, dan Selatan dan Amerika Utara. 


Tangan ini dicat di dinding gua di Rio Pinturas, Argentina. Bentuk tangan yang diciptakan dengan menekan seluruh atau sebagian dari tangan terhadap permukaan, menggunakan cat atau tanah liat. Meskipun terlihat jelas, simbol ini sangat mengherankan dan langka, ditemukan di hanya di bawah 7 persen dari situs Perancis. Pertama kali ditemukan di Chauvet, dan tampaknya telah menyebar ke segala hingga 13.000 tahun yang lalu sampai akhirnya tidak digunakan lagi. Simbol ini juga terdapat di Australia dan Burma.


Simbol Tangan mendominasi mural di sebuah gua asli Australia, menunjukkan seberapa jauh penyebaran simbol tersebut. Terdapat juga simbol spiral di bagian atas atap. Simbol spiral ditemukan di hanya dua situs Perancis, yang mengejutkan para peneliti karena ternyata motif umum dalam budaya ini. Meskipun langka di Perancis, fitur simbol spiral terdapat pula dalam seni batuan di seluruh dunia, termasuk China, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan.


Lukisan-lukisan ini ditemukan di gua Lascaux II. Simbol berbentuk titik seperti yang jelas terlihat tapi begitu juga yang berbentuk segi empat (di sebelah kiri jangka titik). Simbol berbentuk segi empat ditemukan di 20 persen situs dipelajari dan telah dihubungkan dengan situs di Afrika Selatan, India dan Selatan dan Amerika Utara.


Simbol-simbol ini ditemukan di gua-gua di Rio Pinturas, Argentina.Lingkaran terkonsentrasi di kiri bawah dianggap contoh-contoh awal dari synecdoche (menggunakan bagian dari sesuatu untuk mewakili keseluruhan), dan sehingga cara yang mewakili ide-ide simbolis daripada realistis. lingkaran serupa di tempat lain telah digunakan untuk mewakili mata di lukisan kuda dan banteng. 



Titik dan garis adalah beberapa simbol yang paling sering ditemukan.Titik-titik dalam berbagai ukuran muncul di 42 persen dari situs Perancis, termasuk yang satu ini di Chauvet.Garis-garis ditemukan di lebih dari 70 persen situs belajar dan muncul dari 30.000 tahun yang lalu sampai 10.000 tahun yang lalu.
Bagaimana dengan di indonesia???
Ternyata tidak kalah banyak juga lukisan atau simbol-simbol yang ditemukan diantaranya:

Penemuan lukisan gua di Sulawesi Selatan untuk pertama kalianya dilakukan oleh C.H.M. Heeren-Palm pada tahun 1950 di Leang PattaE. Di gua ini ditemukan cap-cap tangan dengan latar belakang cat merah. Barangkali ini merupakan cap tangan kiri perempuan. Ada pun cap-cap tangan tangan ini dibuat dengan cara merentangkan jari-jari tangan itu di dinding gua kemudian ditaburi dengan cat merah. Digua tersebut juga ditemukan lukisan seekor babi rusa yang sedang melompat dengan panah di bagian jantungnya. Barangkali lukisan semacam ini dimaksudkan sebagai suatu harapan agar mereka berhasil berburu di dalam hutan. Babi rusa tadi digambarkan dengan garis-garis horizontal bewarna merah

Lukisan Anoa pada dinding Gua Sumpangbita, Pangkep, Sulawesi Selatan.



Di Maluku penemu lukisan dinding gua adalah J. Roder pada tahun 1937, walaupun mungkin masyarakat sekitar sudah mengenal sebe sebelum Roder menemukannya. Roder menemuan lukisan gua sebanyak 100 buah di Pulau Seram, pada dinding karang di atas Sungai Tala. Lukisan yang ditemukan berupa gambar-gambar rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, dan mata.


Selain ditemukan di Pulau Seram, di Maluku lukisan cadas juga ditemukan di Kepulauan Kei, pada tebing batu karang dengan ketinggian 5-10 meter dari atas permukaan laut. Lukisan-lukisan yang ditemukan di Kepulauan Kei pada umumnya hanya berupa garis lurus saja, tetapi ada yang diberi warna pada bagian dalamnya, khususnya untuk gambar manusia. Kecuali manusia dengan berbagai adegan (menari, berperang, memegang perisai, dan jongkok dengan kedua tangan terangkat), ada pula pola topeng, burung, perahu, matahari, dan bentuk geometrik. Gaya lukisan yang ditemukan mirip dengan lukisan yang ditemukan di Pulau Seram, Papua Barat, dan Timor, bahkan lukisan di Australia bagian selatan.
Orang yang dianggap mencatat lukisan prasejarah pertama kali di Papua adalah Johannes Keyts (Seorang pedagang) dalam perjalanan dari Banda ke pantai Nuw Guinea pada tahun 1678. Ia melewati sebuah tebing karang di tepi teluk Speelman yang dipenuhi oleh tengkorak, sebuah patung manusia, dan berbagai lukisan pada dinding gua tersebut dengan warna merah


Terdapat di gua dan ceruk di Sulawesi Tenggra terdapat di Mentanduro, La Kabori, Kolumbo, Toko, dan wa Bose, sedangkan ceruk-ceruknya adalah La Sabo, Tangga Ara, La Nasrofa, dan Ida Malangi. Semua peninggalan ini terdapat di sekitar kawasan perladangan Liabalano, Kampung Mabolu, Desa Bolo, Kecamatan Kotobu. 


Lukisan cap tangan pada dinding Gua Tewe, Kutai Timur, Kalimantan Timur.
 

Seni cadas yang paling menarik adalah Gua Tamrin dan Gua Ham karena begitu banyak gambar di dalamnya. Gua Tamrin terletak di dekat sungai Marang, memiliki sejumlah lukisan penari bertopeng yang menutupi seluruh bagian kepalanya. Lukisan tersebut mirip dengan tarian adat yang masih berlangsung pada beberapa suku di Papua. Sementara itu, di Gua Ham ditemukan pola cap seperti penari, tapir, rusa dan tumbuh-tumbuhan. Chazine berpendapat bahwa pola cap tangan yang di jumpai di dalam gua tersebut merupakan yang paling banyak di dunia. 


Lukisan dan simbol-simbol yang terdapat di gua-gua tersebut adalah peninggalan sejarah yang sangat berharga. Sampai sampai lukisan yang terdapat di gua Lascaux, dibuatkan replikanya sehingga yang asli tetap terjaga

Selasa, 13 Desember 2011

nilah Asal Usul Kata "BUSYET"


“Busyet dah ! Gua lupa !” seorang teman mengungkapkan ekspresinya ketika telepon genggamnya tertinggal. Sebuah ungkapan yang umum ditelinga kita, terutama bagi orang Betawi atau mereka yang tinggal di Jakarta.

Mungkin anda sering pula mendengar istilah tersebut. Busyet, buset, atau kadang ada orang Betawi pinggiran yang menyingkatnya menjadi ‘Et dah’ atau ‘et deh’. Sebenarnya semuanya sama, hanya kadang berbeda pengucapannya.
 

Penyebutan kata ‘busyet’ atau ‘buset’ maupun singkatan kata ‘et dah’ saat ini sebenarnya rancu. Kerancuan penyebutan kata tersebut dapat dimaklumi karena ketidaktahuan latar belakang sejarahnya. ‘Busyet’, saya akan mengambil satu kata ini dalam tulisan berikut.
 
Kekeliruan yang terjadi

Kata busyet saat ini bermetamorfosis menjadi sebuah ungkapan keterkejutan. Kata ‘busyet’ sama seperti kata ‘alamak’, ‘alamak jan’, ‘aduh’, atau ‘astagfirullah’.
 

Dalam masyarakat, penggunaan kata-kata ini menjadi sama maksudnya. Padahal terjadi kekeliruan atau kurang tepat penggunaannya. Seperti kata ‘aduh’ yang seharusnya menggambarkan ‘rasa sakit’. Dalam komunikasi verbal, kata aduh digunakan seperti dalam kalimat, “Aduh, tas saya tertinggal !”. Padahal ketinggalan tas tidak menyebabkan rasa sakit bukan ? Nah, kira-kira seperti itulah kekeliruan verbal yang akhirnya diadopsi dalam budaya tulisan.
 
Sejarah ‘Busyet’

Lalu ungkapan apa yang tepat untuk penggunaan kata Busyet ? Untuk mengetahui kalimat atau ungkapan yang tepat untuk kata ‘busyet’ kita harus tahu sejarahnya terlebih dahulu. Terus terang, sebagian besar orang Betawi sendiri tidak tahu sejarah kata ini. Saya saja mengetahui sejarahnya dari cerita almarhum paman. Untuk mengetahui apakah cerita paman dapat diyakini kebenarannya, mungkin perlu diadakan penelitian sendiri oleh ahli bahasa atau pemerhati budaya Betawi. Dari hasil pencarian di google, “sejarah kata busyet atau buset”, tidak ada yang menceritakan asal usul kata tersebut.
 

Busyet atau Buset berasal dari kata ‘Abu Said’. Aneh bukan ? Ternyata ‘Busyet’ atau ‘buset’ awalnya adalah nama seseorang. Lalu siapakah Abu Said ini dan kenapa berubah menjadi ‘busyet’ ?
 

Menurut cerita paman, dahulu ada seorang dukun yang sangat terkenal di daerah Bogor bernama Abu Said. Abu Said ini dukun sakti yang dapat mengobati berbagai macam penyakit. Banyak orang yang sakit berobat kepadanya dan dengan bantuannya akhirnya penyakitnya bisa sembuh. Karena kesaktiannya yang luar biasa, banyak orang yang percaya, jika sakit hanya menyebutkan namanya saja, maka penyakitnya akan sembuh. Kepercayaan atas kesaktian dukun Abu Said terus diyakini hingga lama setelah sang dukun meninggal.
 

Akhirnya banyak orang yang mengalami musibah berharap sembuh dengan menyebut “Abu Said”. Ketika terjatuh, orang akan berkata “Abu Said” dengan harapan tidak akan terasa sakit. Kata ‘Abu Said’ inilah yang lama kelamaan berubah menjadi, ‘Bu Sait’ - ‘Bu syet’ - ‘bu set’.
 

Jadi awalnya, kata busyet ini digunakan untuk mengungkapkan sebuah musibah, kecelakaan, atau kejadian tertentu yang menyebabkan rasa sakit. Kalimat yang tepat untuk ‘busyet’ adalah ketika orang jatuh lalu dia akan mengucapkan “Buset !” atau “Busyet gua jatuh !”.
 
Termasuk Kata Terlarang

Sebagai orang Betawi, ketika kecil dulu, saya juga sering mengucapkan kata-kata tersebut. Mungkin karena dalam masyarakat kata tersebut umum diucapkan sehingga saya ikut-ikutan. Namun jangan sekali-kali mengucapkan kata tersebut diucapkan di hadapan orang tua. Orang tua saya selalu melarang atau memarahi anak-anaknya yang mengucapkan kata ‘busyet’. Mereka mengancam akan menampar atau memberi cabai mulut anaknya jika terdengar mengucapkan kata tersebut. Pernah suatu kali saya bertanya, kenapa kata tersebut dilarang. Orang tua saya hanya mengatakan bahwa kata tersebut jelek. Bahkan pernah dikatakannya bahwa kata tersebut sama saja memanggil setan. Waktu itu saya berpikir, kata ‘-syet’ adalah kependekan dari syetan. Sayapun takut dan tidak pernah mengucapkan kata busyet.
 

Kata ‘busyet’ di dalam rumah dan keluarga kami merupakan kata jelek, kotor dan terlarang. Namun di dalam pergaulan masyarakat Betawi secara umum masih banyak yang mengucapkannya. Mungkin karena tidak tahu atau tidak dilarang orang tuanya.
 


Masyarakat Betawi secara umum adalah masyarakat yang agamis. Coba saja menagatakan ‘busyet’ di depan orang tua dan guru ngaji, pasti kita dimarahi. Masih untung hanya dimarahi, bahkan ada yang ditampar mulutnya. Ketika saya tahu dari Paman tentang kisah Abu Said dan kata ‘busyet’, barulah saya tahu maksudnya.
 

Mengapa orang tua kami melarang anak-anaknya mengucapkan kata ‘busyet’ ? Ketika kita mengucapkan kata tersebut, artinya kita percaya kepada kesaktian dukun Abu Said. Percaya kepada selain Allah SWT dalam Islam adalah perbuatan syirik. Syirik adalah dosa besar yang sangat terlarang dalam Islam. Nah, inilah kenapa kata tersebut menjadi terlarang.
 

Tulisan ini hanya sebuah informasi penulis berdasarkan cerita orang tua. Tidak ada satupun literatur atau tulisan yang mendasarinya. Jika ada kekeliruan atau sumber lain yang dapat dipercaya, silahkan pembaca menyimpulan pendapatnya. Saya hanya ingin berbagi, karena jika benar ada bahaya besar yang tidak kita sadari.
 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...